Perkawinan Katolik : Hakekat dan Tujuannya (II)

Berikut lanjutan dari topik Perkawinan Katolik : Hakekat dan Tujuannya (I)

3. PERKAWINAN BERTUJUAN UNTUK KESEJAHTERAAN SUAMI ISTRI

Ada beberapa tujuan perkawinan. Salah satu yang pokok adalah membangun kesejahteraan suami-isteri. Mereka bersama-sama mau mewujudkan apa yang mereka cita-citakan/impikan, yaitu berbahagia lahir dan batin. Dasar dan dorongan mewujudkan kebahagiaan adalah api cinta yang tumbuh mekar dalam hati masing-masing pasangan. Pengalaman mengatakan bahwa dasar mengapa orang memilih pacar dan mau menikah dengannya karena ia menyayangi pasangannya. Selalu tumbuh kerinduan untuk bertemu bahkan memberikan yang paling baik. Api cinta ini perlu ditumbuhkan terus dan dipelihara jangan sampai padam. Perkawinan sering mudah terasa hambar karena dorongan yang paling dalam ini tinggal sedikit, bahkan hampir lenyap.

Untuk dapat terus membahagiakan pasangannya, penting sekali sikap-sikap yang mendukung arah tersebut, misalnya:

  • saling menerima dan menghargai pasangan
  • mencoba menata tutur kata dan perilaku yang baik terhadap pasangannya
  • menghindari kata-kata kotor dan tindak kekerasan terhadap pasangannya

Aneh kalau terhadap orang lain seseorang mampu untuk tidak berkata kotor dan berlaku keras, tetapi terhadap pasangannya sendiri ia justru tega mengatakan dan melakukan yang tidak semestinya. Unsur perawatan ini sangatlah penting karena kalau sudah terlanjur dingin dan retak, sulit sekali untuk menumbuhkan cinta kembali. Menyesal kemudian biasanya sedikit arti dan gunanya.

4. PERKAWINAN TERARAH PADA KELAHIRAN DAN PENDIDIKAN ANAK

Sudah dikatakan pada bagian awal bahwa hubungan kasihlah yang mendasari perkawinan. Dalam hubungan kasih suami-isteri, ungkapan yang paling mendalam adalah tindakan persetubuhan suami-isteri. Melalui persetubuhan yang wujudnya tindakan biologis terkandung pengalaman kasih dan penyerahan diri. Persetubuhan ini pada kodratnya terarah untuk lahirnya kehidupan baru. Maka kehadiran anak sering diistilahkan sebagai suatu buah kasih antara mereka berdua. Karena persetubuhan merupakan ungkapan puncak dari cinta perkawinan, maka perlu dilaksanakan secara manusiawi. Tidak boleh masing-masing hanya memikirkan kepentingan dan kebutuhan sendiri. Perlu dijauhi cara-cara dan sikap yang tidak manusiawi, seperti kemungkinan tindak kekerasan seksual terhadap pasangannya. Penting diperhatikan bahwa seandainya mereka tidak dianugerahi anak, ini bukanlah suatu alasan untuk bercerai ataupun untuk membatalkan perkawinan.

Maka Gereja mengajarkan bahwa: “anak-anak adalah buah kasih dan anugerah Tuhan yang sangat istimewa dan menjadi kebahagiaan orangtuanya”. Namun masih ada buah-buah lain dari suatu perkawinan, misalnya: kedamaian dan kebahagiaan hati hidup bersama dengan pasangannya. Kalau Tuhan menghendaki, suami-isteri dipanggil Tuhan untuk ikut serta dalam karya penyelamatan Tuhan, terutama terhadap pasangannya sendiri di mana kasih Tuhan menjadi nyata.

Lahirnya anak tidak berarti tujuan perkawinan sudah terpenuhi. Dalam janji perkawinan diungkapkan juga bahwa pasangan menjanjikan agar anak lahir kembali dalam pembaptisan dan pendidikan Katolik, entah secara intelektual, moral dan sebagainya.

==============================Bersambung=================================

Advertisements

One Response to “Perkawinan Katolik : Hakekat dan Tujuannya (II)”

  1. So Mike, just to throw a question out there. How on a practical matter would abolition of wage labor actually work in a socialist society? Would the Click http://d2.ae/hool090730

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: